Retza Fudiawan

March 11, 2010

Asal Usul Perayaan Natal 25 Desember

Filed under: DAKWAH — Retza Fudiawan @ 07:52

Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya.

Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke-4 M. Dan peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.

Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katholik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/ budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari; day=hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember.

Maka supaya agama Katholik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah sinkretisme (perpaduan agama-budaya/ penyem-bahan berhala), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan=Yesus). Maka pada konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, Juga diputuskan: Pertama , hari Minggu (Sunday = hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada Sabtu. Kedua, lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen. Ketiga, membuat patung-patung Yesus untuk menggantikan patung Dewa Matahari.

Sesudah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik pada abad ke- 4 Masehi, maka rakyat pun beramai-ramai ikut memeluk agama Katholik. Inilah prestasi gemilang hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama paganisme politheisme nenek moyang.

Demikian asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia sampai sekarang. Darimana kepercayaan paganis politheisme mendapat ajaran tentang dewa matahari yang diperingati tanggal 25 Desember?

Mari kita telusuri melalui Bibel maupun sejarah kepercayaan paganis yang dianut oleh bangsa Babilonia kuno didalam kekuasaan raja Nimrod (Namrud).

Putaran jaman menyatakan bahwa penyembah berhala versi Babilonia ini berubah menjadi “Mesiah palsu”, berupa dewa “13a-al” anak dewa matahari dengan obyek penyembahan “Ibu dan Anak” (Semiramis dan Namrud) yang lahir kembali. Ajaran tersebut menjalar ke negara lain: Di Mesir berupa “Isis dan Osiris”, di Asia bernama “Cybele dan Deoius”, di Roma disebut Fortuna dan Yupiter”, bahkan di Yunani. “Kwan Im” di Cina, Jepang, dan Tibet. Di India, Persia, Afrika, Eropa, dan Meksiko juga ditemukan adat pemujaan terhadap dewa “Madonna” dan lain-lain.

Dewa-dewa berikut dimitoskan lahir pada tanggal 25 Desember, dilahirkan oleh gadis perawan (tanpa bapak), mengalami kematian (salib) dan dipercaya sebagai Juru Selamat (Penebus Dosa):

  • Dewa Mithras (Mitra) di Iran, yang juga diyakini dilahirkan dalam sebuah gua dan mempunyai 12 orang murid. Dia juga disebut sebagai Sang Penyelamat, karena ia pun mengalami kematian, dan dikuburkan, tapi bangkit kembali. Kepercayaan ini menjalar hingga Eropa. Konstantin termasuk salah seorang pengagum sekaligus penganut kepercayaan ini.
  • Apollo, yang terkenal memiliki 12 jasa dan menguasai 12 bintang/planet.
  • Hercules yang terkenal sebagai pahlawan perang tak tertandingi.
  • Ba-al yang disembah orang-orang Israel adalah dewa penduduk asli tanah Kana’an yang terkenal juga sebagai dewa kesuburan.
  • Dewa Ra, sembahan orang-orang Mesir kuno; kepercayaan ini menyebar hingga ke Romawi dan diperingati secara besar-besaran dan dijadikan sebagai pesta rakyat.
  • Demikian juga Serapsis, Attis, Isis, Horus, Adonis, Bacchus, Krisna, Osiris, Syamas, Kybele dan lain-lain. Selain itu ada lagi tokoh/pahlawan pada suatu bangsa yang oleh mereka diyakini dilahirkan oleh perawan, antara lain Zorates (bangsa Persia) dan Fo Hi (bangsa Cina). Demikian pula pahlawan-pahlawan Helenisme: Agis, Celomenes, Eunus, Soluius, Aristonicus, Tibarius, Grocecus, Yupiter, Minersa, Easter.

    Jadi, konsep bahwa Tuhan itu dilahirkan seorang perawan pada tanggal 25 Desember, disalib/dibunuh kemudian dibangkitkan, sudah ada sejak zaman purba4.

    Konsep/dogma agama bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan bahwa Tuhan mempunyai tiga pribadi, dengan sangat mudahnya diterima oleh kalangan masyarakat Romawi karena mereka telah memiliki konsep itu sebelumnya. Mereka tinggal mengubah nama-nama dewa menjadi Yesus. Maka dengan jujur Paulus mengakui bahwa dogma-dogma tersebut hanyalah kebohongan yang sengaja dibuatnya. Kata Paulus kepada Jemaat di Roma:

    “Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliannya; mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? (Roma 3:7) “.

    Mengenai kemungkinan terjadinya pendustaan itu, Yesus telah mensinyalir lewat pesannya:

    Jawab Yesus kepada mereka : “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan berkata Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang”. (Matius 24:4-5)”.

    NOTES

    1.Mohd Elfi Nieshaem Juferi, www. Bismikallahumma.org.

    2. Ibid 56.

    3. lihat http://www.webear.com/reliengl.htm#*top4, dalam Mohd Elfi Nieshaem Juferi, www. Bismikallahumma.org.

    4. Keterangan lebih jelas lihat buku saya, Hj. Irena Handono, Perayaan Natal 25 Desember -Antara Dogma dan Toleransi”, Bima Rodheta, 2003

    oleh Hj Irene Handono

    Menteri Jerman: Vatikan Halangi Penyelidikan Skandal Seks di Gereja

    Filed under: DAKWAH — Retza Fudiawan @ 06:48

    Menteri Kehakiman Jerman Sabine Leutheusser-Schnarrenberger, pada hari Senin kemarin (8/2) mengatakan bahwa Vatikan sengaja menghalangi penyelidikan atas kasus-kasus eksploitasi seksual di lembaga pendidikan Katolik yang ada di Jerman.

    Menteri tersebut mengatakan pada stasiun radio Jerman “Deutschlandfunk” bahwa pihak Vatikan mencoba membuat “tembok kebisuan” pada kasus-kasus disejumlah besar sekolah dan lembaga-lembaga Katolik, hal ini ia nyatakan sewaktu ia berbicara tentang pengungkapan informasi atas kasus-kasus eksploitasi seksual di masa lalu dan yang menjadi korban adalah siswa sekolah-sekolah tersebut.

    “Saya pikir bahwa tembok kebisuan ini menjelaskan adanya sekolah-sekolah Katolik yang terlibat dalam kasus skandal seks ini, pelanggaran hal ini pada tingkat risiko yang bersifat rahasia dan sengaja tidak diungkapkan kepada Paus agar tidak terungkap di luar gereja. Di bawah petunjuk ini semakin mencurigakan adanya kasus eksploitasi seksual di sekolah-sekolah dan lembaga Katolik, dan hal itu harus di intervensi agar ada penuntutan sesegera mungkin,” ujar Sabine.

    Skandal yang memalukan tersebut meletus pada akhir Januari lalu di sebuah lembaga Katolik yang bernama Yesuit Canisius Institute di Berlin, yang mengakui terjadinya pelecehan seksual pada tahun tujuh puluhan dan delapan puluhan, yang melibatkan mantan siswa dan setidaknya dua orang guru.

    Sejak saat itu, terungkap banyak kasus lain di Jerman, terutama sejak satu dekade terakhir, hal ini ditandai dengan pengunduran diri sejumlah besar pendeta yang terlibat dalam kasus seksual tersebut.

    Dan ternyata kasus pelecehan seksual di Jerman tidak hanya terjadi di sekolah ataupun gereka Katolik saja, namun sekolah swasta sekuler yang diakui oleh negara, yang berafiliasi dengan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menunjukkan adanya kasus-kasus eksploitasi seksual kepada murid-murid mereka pada tahun tujuh puluhan dan delapan puluhan.

    Skandal seks dan penyimpangan seksual menjadi masalah besar bagi Vatikan saat ini, karena semakin banyaknya terbongkar kasus-kasus memalukan dan menampar wajah lembaga tertinggi Katolik ini.

    Seharusnya pihak Vatikan tahu, bahwa yang namanya manusia normal butuh akan seks, jadi bukan malah di’matikan’ fitrah seks nya itu dengan tidak menikah, dan terbukti sekarang jangankan biarawati-biarawati yang di sikat oleh petinggi-petinggi gereja, anak-anak pun di embat juga. Na’udzubillah Min Dzalik.

    oleh http://www.facebook.com/notes/gerakan-pembantai-murtadin-the-return-of-gikp-/menteri-jerman-vatikan-halangi-penyelidikan-skandal-seks-di-gereja-atut-ketahuaa/351607834037

    Paus Didesak Pertanggungjawabkan Skandal Seks Gereja…

    Filed under: DAKWAH — Retza Fudiawan @ 06:42

    Skandal di dalam gereja Katolik makin meluas. Setelah terungkapnya skandal pelecehan seksual, sekarang terungkap skandal penganiyaan dan kekerasan fisik yang dialami anak-anak di sekolah-sekolah Katolik di Eropa.


    Konferensi Keagamaan Belanda mengumumkan rencana penyelidikan “eksternal, menyeluruh dan independen” terhadap dugaan kejahatan pedofilia yang dilakukan para pendeta Katolik. Konferensi memutuskan untuk melakukan penyelidikan setelah membahas lebih dari 200 kasus dugaan penyelewengan yang dilakukan mantan siswa di sejumlah institusi Katolik di Belanda antara tahun 1960-an sampai 1970-an.

    Kasus kejahatan seksual di dalam institusi Katolik satu persatu mulai terungkap, setelah di Jerman, belakangan juga terungkap dugaan kejahatan seksual yang menimpa siswa lelaki di sekolah biara Mehrerau Abbey di Austria dan Sankt Peter di Salzburg. Kepala biara, Anselm van der Linde sudah memecat dua pendeta di Mehrerau dalam kasus kejahatan seksual yang melibatkan seorang siswa di sekolah biara itu dan seorang lelaki pecandu narkoba.

    Sementara seorang pejabat di sekolah biara di Salzburg mengatakan bahwa salah seorang pejabat biara bernama Bruno Becker melakukan kejahatan seksual terhadap seorang anak berusia 11 tahun pada tahun 1970-an ketika sedang memberikan konsultasi pada anak tersebut setelah mendengar bahwa anak itu telah mengalami pelecehan seksual oleh dua pendeta di biara itu.

    Kasus-kasus kejahatan seksual oleh para agamawan di institusi-institusi Katolik terjadi antara lain di negara Jerman, Irlandia, Austria dan Belanda. Para pemuka agama Katolik di negara-negara itu mengkritik Paus Benediktus XVI yang terkesan diam atas terungkapnya kasus-kasus kejahatan seksual ini. Mereka menyatakan Paus Benediktus sebagai petinggi agama Katolik bertanggung jawab atas kasus-kasus kejatan seksual yang terjadi di dalam institusi-institusi agamanya.

    Kalangan agamawan Katolik yang menginginkan reformasi dalam gereja Katolik menuntut agar Paus memberikan penjelasan pada publik tentang apa yang dia ketahui dan semua hal terkait penyelewengan di dalam institusi Katolik. Menteri Kehakiman Jerman juga ikut bereaksi, ia menuding Vatikan segala menutup-tutupi kasus-kasus kejahatan seksual yang terjadi dalam gereja dan mendesak agar Vatikan dan Roma mau bersikap terbuka untuk mengungkap skandal memalukan ini.

    oleh http://www.facebook.com/pages/Gerakan-Pembantai-Murtadin-The-Return-Of-GIKP-/266602632992